Friday, June 16, 2017

Boleh Tidak Anak Laki

Boleh  Tidak Anak Laki

Ada Mommies yang cemas saat anak lelakinya lebih sukai main masak-masakan daripada berantem-beranteman? Stereotip yang ada di Boneka Wisuda orang-orang sering buat orang-tua bingung, ya. Anak perempuan mesti main boneka serta lelaki mobil-mobilan. Apa mesti senantiasa demikian?

Simak pembicaraan Mbak Irma Gustiana, psiolog keluarga yang dosen di STIE Trisakti serta pengasuh Rubrik Psikologi Tabloid Wanita Indonesia mengenai hal semacam ini yuk!

elmo-hasbro*Gambar dari sini

Bermain, main serta permainan yaitu hal yang benar-benar sangat utama untuk perubahan anak, terlebih memanglah di umur golden age. Jangan pernah kecolongan, istilahnya. Golden event ini mesti benar-benar digunakan karna berdasar pada riset di umur 4 tahunlah penyerapan info paling banyak, yakni sekitaran 80%. Karna memanglah masanya bermain, berarti peluang bermain mesti diberi seluas-luasnya, bermain kan fasilitas belajar yang paling gampang di terima anak.


Ada bermacam jenis bentuk permainan, umpamanya :

Bermain soliter, berarti bermain sendiri, asyik sendiri dengan mainannya hal tersebut bakal melatih imajinasi.
Bermain pararel, dimana anak berbarengan dengan rekannya tetapi tampak masih tetap main sendiri-sendiri.
Bermain sosial atau bermain berbarengan dengan rekan sebaya atau yang mempunyai muatan hubungan sosial.

Bermain role play termasuk juga bermain sosial karna anak di aktivitas ini telah dapat “meniru” serta lakukan aktivitas bermain peranan umpamanya jadi guru, dokter, koki serta beda sebagainya.
Stimulus yang didapatkan untuk anak lelaki serta perempuan sesungguhnya tidaklah terlalu berlainan, cuma saja anak lelaki dengan alami memanglah semakin banyak suka pada aktivitas motorik kasar sedang anak perempuan lebih suka bermain pura-pura seperti masak-masakan, atau salon salonan.

Untuk masak-masakan sendiri juga tak ada problem diperkenalkan dengan anak lelaki, karna nanti hal tersebut yaitu ketrampilan hidup yang perlu juga dikuasai. Dengan belajar masak-masakan ada beberapa hal yang dapat dipelajari umpamanya klasifikasi buah, sayuran, mengetahui warna, bentuk, motorik halusnya juga terlatih karna anak banyak menggerakan jari jemarinya lantas juga mengasah kreativitasnya. 

Apa yang dipersepsikan orang-orang kalau anak lelaki mesti diperkenalkan dengan tokoh superhero, tidak salah juga tetapi juga tidak seutuhnya benar. Asumsi itu cuma berlaku di orang-orang umum karna dengan memperkenalkan anak tokoh superhero, diinginkan anak lelaki lebih “macho” atau lebih bagus. Walau sebenarnya untuk buat anak tampak maskulin beberapa hal yang dapat dikerjakan terutamanya yaitu perbanyak aktivitas berolahraga atau kesibukan diluar tempat tinggal.

Bila menginginkan memperkenalkan tokoh superhero juga tidak jadi masalah, tetapi memanglah mesti waspada dengan muatan ceritanya serta sudah pasti pendampingan itu begitu utama. Karna anak suka mengikuti, bila sangat banyak lihat adegan agresif ya telah dapat diprediksikan ia juga bakal mengikuti dengan spontan. Ingat masalah bocah umur 5 th. yang melompat dari apartemen lantai 19 karna tidak diizinkan nonton Spiderman? : (

Yang paling aman yaitu saat anak memanglah telah cukup masak dimana ia tahu mana yang bisa serta tidak bisa dikerjakan, yakni diatas umur 6 th.. Waktu itu ia telah dapat untuk di ajak berdiskusi.


Bagaimana Mommies? Tidak usah cemas terlalu berlebih, malah kita menjadikan bermacam permainan itu jadi fasilitas belajar anak, kan. Bila kita saksikan saat ini, siapa yang tidak kenal Chef Juna? :)

No comments:

Post a Comment